Infeksi pada daerah rongga mulut dan sekitarnya, sampai saat ini masih merupakan salah satu jenis penyakit yang tinggi frekuensinya di negara kita, walaupun teknologi kedokteran gigi berkembang cukup pesat. Pada regio tersebut, infeksi dapat bersumber baik dari gigi geligi maupun dari sebab-sebab lainnya.

Sebagai petugas kesehatan, seorang dokter gigi harus mampu melakukan perawataan terhadap kasus-kasus tersebut diatas. Karena bila tidak ditangani secara cepat dan tepat bebebrapa kasus/jenis infeksi diregio maksila fasial dapat mengakibatkan keadaan bagi penderita dan bahkan kadang-kadang berakibat fatal. Infeksi sebagai komplikasi M3 bawah impaksi, merupakan salah satu infeksi dentogen yang banyak dijumpai oleh para sejawat dokter gigi sehari-hari. Karena kasus-kasus M3 bawah impaksi merupakan kasus yang cukup tinggi frekuensinya dalam praktek sehari-hari. Sebagai mana diketahui gigi M3 bawah impaksi dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi. Komplikasi tersebut dapat ringan maupun berat yang dapat mengakibatkan keadaan-keadaan yang serius bagi si penderita.

Salah satu komplikasi yang sering terjadi adalah berupa komplikasi infeksi. Dalam hal ini infeksi yang terjadi dapat mengakibatkan hal-hal yang cukup serius bagi penderitan bila tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Apa itu "Impaksi Gigi Geraham (Gigi M3)"?

Impaksi gigi geraham (gigi M3) adalah gigi geraham yang gagal untuk erupsi (tumbuh) secara sempurna pada posisinya. Gigi terhalang oleh gigi depannya (molar dua) atau jaringan tulang/jaringan lunak yang padat di sekitarnya. Kemungkinannya, gigi bisa muncul sebagian atau tidak bisa erupsi sama sekali. Kalaupun muncul, erupsinya salah arah atau posisinya tidak normal. Gigi demikian bisa digolongkan sebagai gigi yang gagal bererupsi pada posisi normal. Posisi impaksi gigi molar bisa macam-macam. Ada yang miring ke depan, vertikal dan muncul sebagian, serta terpendam horisontal atau vertikal. Semua itu tergantung letak dan posisi gigi molar tiga (M3) terhadap rahang dan geraham kedua (molar kedua), atau kedalamannya menancap di dalam tulang rahang.

Faktor apakah yang mempengaruhi impaksi Gigi Geraham (Gigi M3)?

Bedasarkan pengalaman di Poliklinik bedah mulut FKG UI/RSCM, element M3 bawah adalah element yang paling sering mengalami impaksi. Sebagaimana diketahui, M3 bawah impaksi dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi seperti misalnya: infeksi, rasa sakit, terjadinya kista dentigeous dsb. berikut beberapa faktor yang dapat menyebabkan gigi mengalami impaksi : Karena jaringan sekitarnya yang terlalu padat, proses pertumbuhan terhambat, arah erupsi (pertumbuhan), dan pengaruh garis oblik eksternal dan otot buksinator. Bisa juga karena tidak adanya tempat untuk erupsi (tumbuh). Rahang "kesempitan" gara-gara pertumbuhan tulang rahang kurang sempurna.

Berikut Contoh komplikasi infeksi yang terjadi, yaitu dapat berupa infeksi ringan maupun berat. Misalnya yang seringkali terjadi adalah:

  • Infeksi perikoronal
  • Penjalaran infeksi ke sub mandibular space
  • Penjalaran infeksi ke sub maseteric space
  • Terjadinya suatu localized osteomyelitis yang disebut Garre’s osteomyelitis

Bagaimana  penanganannya?

Seperti halnya dengan infeksi region fasial lainnya, pada terapi infeksi karena M3 bawah impaksi; prinsip-prinsipnya adalah sebagai berikut:

  • Melakukan poto gigi dan rahang (Panoramik) guna melihat secara jelas masalah kesehatan gigi dan mulut sehingga memudahkan dokter untuk menentukan tindakan yang tepat sesuai dengan kebutuhan pasien dalam meningkatkan kesehatan gigi dan mulut.
  • Bila terjadi keadaan gawat darurat akibat infeksi tersebut, terlebih dulu harus dilakukan usaha-usaha untuk mengatasinya guna menyelamatkan jiwa penderita. Kita harus mengatasi kemungkinan septic syok, dehidrasi, suhu yang tinggi dan adanya obstruksi saluran pernafasan.
  • Untuk mengatasi infeksi, diberikan medikasi yang adekwat, baik dalam dosisnya maupun lamanya pemberian. Dalam kasus-kasus infeksi berat, dianjurkan pemberian obat antibiotic, analgertik/anti piretika secara par enteral agar lebih efektif.
  • Sementara menunggu hasil identifikasi dan resistensi test mikro organisme pada infeksi tersebut, sebaiknya diberikan obat-obat anti mikroba yang efektif terhadap mikroorganisme baik gram positif maupun negative, aerob maupun anaerob. Setelah hasil resistensi test diperoleh, baru kita berikan anti mikroba yang sesuai.
  • Bilamana keadaan telah memungkinkan, harus segera dilakukan incise untuk drainage untuk mengeluarkan pus.
  • Untuk meningkatkan daya tahan tubuh penderita, diberikan obat-obatan seperti vitamin, roborantia serta diet yang baik. Bilaman perlu atau pada keadaan intake makanan/minum tidak mencukupi dapat diberikan secara par enteral.

Jika infeksi telah teratasi dan keadaan penderita telah tenang, secepatnya dilakukan pengangkatan gigi M3 bawah yang mengalami impaksi sebagai penyebab/sumber infeksi.

Sumber:

  1. Archer, W, Harry : Oral Surgery, 4th. Ed; W.B. Saunders Co. 1969, Philladelphia -London p.412-421.
  2. Shaffer-Hine-Levy: A Text Book of Oral Pathology, 4th. Ed. W.B. Sauders Co., Igaku-Shoin / Sainders, 1983, Philladelphia-London-Toronto-Tokyo, p.260-275.
  3. Shear, M. : Cyst of the Oral region, Bristol, John Wright and Sons Ltd., 1976.
  4. Thoma, K.H. ; Oral Surgery, 5th.ed. Vol. I, The CV Mosby Co, St. Louis, 1976.
  5. Kruger.G.C ; A Text Book of Oral Surgery, 5th.ed., The CV Mosby Co, St. Louis 1970.  (win).

copyright 2015 . Sport Science Kemenpora . All Right Reserved